RAMAI POSTINGAN INDONESIA TERSERAH, APAKAH BENAR TENAGA MEDIS SUDAH MENYERAH ?

0
7

Postingan foto dari tenaga kesehatan dengan tulisan ” Indonesia Terserah ” viral di media sosial baru-baru ini.


Salah satunya di media sosial Twitter, sejak Jumat (15/5/2020) hingga Sabtu (16/5/2020), tagar #indonesiaterserah menjadi trending.

Selain postingan tenaga kesehatan di atas, dr. Tirta Mandira Hudhi juga membuat unggahan mengenai hal yang sama.

Menurut Psikolog


Guru Besar Psikologi Sosial Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Faturochman menerangkan tentang tulisan “Indonesia Terserah” yang viral di media sosial tersebut, walaupun seperti menyerah, sebenarnya para tenaga kesehatan tidak seperti itu.

“Itu protes, jadi bukan menyerah,” ucapnya pada Sabtu (16/5/2020).


Faturochman mengatakan para tenaga kesehatan tidak mungkin menyerah, karena mereka memang sudah disumpah.


Saat ini, yang terjadi yakni kekhawatiran di dunia kesehatan.


Oleh karena dengan adanya pengurangan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ini meningkatkan peluang penyebaran virus corona lagi.

Pengurangan aturan itu jelas terlihat pada sektor transportasi, yakni dengan kelonggaran sejumlah akses transportasi, mulai dari darat dengan operasional bus AKAP, kereta api hingga pesawat terbang.

Masalah Semakin Sulit

Kecemasan tersebut jelas terlihat, seperti saat menumpuknya penumpang di terminal 2 bandara Soekarno-Hatta baru-baru ini.


“Dengan PSBB yang tidak seketat lockdown pun kasus masih ada terus. Apalagi jika dilonggarkan. Beban tenaga medis akan makin berat,” terang Faturochman.


Kemudian, dia menjelaskan masalah sudah terjadi di awal pandemi yakni para tenaga kesehatan kekurangan APD, pengetahuan tentang Covid-19, obat-obatan, dan sebagainya.


Karena itu sedari awal mereka ingin masyarakat di rumah saja.

Tetapi melihat kondisi sekarang, sepertinya mereka kecewa.


“Sudah sejak lama rumah sakit tidak bisa menampung pasien baru. Hingga ada orang-orang yang disarankan untuk isolasi mandiri,” sambungnya.

“Jika ditambah lagi, para tenaga medis akan sangat kewalahan. Jadi mereka protes,” lanjut dia.


Bentuk Protes Terhadap Pemerintah dan Masyarakat


Faturochman menilai, para tenaga Kesehatan melakukan protes kepada dua pihak, yaitu pemerintah dan masyarakat.


Kepada pemerintah lebih ke mengenai kebijakan yang diatur.


Menurutnya kebijakan PSBB belum seluruhnya dipertegas di lapangan.


“Jelas harus mempertegas dan implementasinya. Kalau saya lihat di kalangan pengambil kebijakan dan implementer di lapangan juga terbelah dua,” katanya.


Di sisi lain, ada yang mengutamakan kesehatan sementara yang lainnya mengutamakan ekonomi.

Mereka yang mengutamakan ekonomi ini melonggarkan kebijakan.

Sebaiknya Ada Jalan Tengah


Faturochman menilai, PSBB tetap harus dijalankan, dipertegas, dan ada dukungan semua pihak.

Pemerintah juga perlu memikirkan bagaimana pendistribusian kebutuhan pokok masyarakat.
Daya konsumtif masyarakat juga perlu dipikirkan.


Masyarakat Terlampau Bebas


Faturochman mengatakan, protes kepada masyarakat tersebut karena terlihat dari perilaku masyarakat yang masih longgar di tengah pandemi.


Seperti yang terjadi di tempat tinggalnya di Yogyakarta, masih banyak orang lalu lalang keluar rumah dengan mudahnya.

Banyak yang tidak menggunakan masker, bahkan keluar bukan karena alasan yang mendesak.


“Jika dilihat, masyarakat juga bosan karena terlalu lama di rumah, sehingga ada dorongan keluar rumah” jelas dia.


Mereka yang melakukan prilaku hanya karena mengikuti keinginannya saja itu yang berbahaya.


Menurut Faturochman masyarakat Indonesia banyak orang yang tidak patuh.


“Kita sudah lama bertransisi antara ditekankan kepatuhan zaman Orde Baru ke kepatuhan bertanggungjawab, kemudian ke demokrasi. Itu kita belum sampai ke sana,” ujarnya.

Dengan beberapa kejadian di atas, sudah pasti membuat para tenaga kesehatan jengkel.


“Seandainya PSBB dijalankan semua saling mendukung saya yakin baik baik saja,” tutup Faturochman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here